Pengalaman Menakjubkan Menjajal Headset VR Murah dari Oculus

Pengalaman Menakjubkan Menjajal Headset VR Murah dari Oculus

186
0
SHARE

Oculus disebut tengah menyiapkan penantang Gear VR dan Daydream View dengan teknologi yang lebih canggih lagi. Seorang jurnalis pun menjadi segelintir orang yang berkesempatan menjajal, bagaimana impresinya?

Setelah melalui lorong panjang dengan cahaya seadanya, jurnalis bernama Nicole Lee asal Engadget ini akhirnya sampai ke depan sebuah ruangan meeting. Di pintunya tertulis sebuah tanda bertuliskan ‘no photos‘ dan ‘no food or drink‘. Lee diminta meninggalkan tas dan ponsel miliknya di luar ruangan.

Ketika masuk, Lee terkejut ternyata ruangan yang dikiranya bakal berisi meja besar dengan kursi dijejerkan melingkar, malah didesain layaknya ruangan keluarga. Ada sofa besar dengan bantalnya di sudut ruangan, dan rak buku di sisi lainnya. Tapi tentu saja tujuan Lee masuk ruangan ini bukan untuk menilai interiornya, melainkan ada hal yang membuatnya lebih penasaran.

Adalah Santa Cruz yang ingin dijajal, yang sejak tadi ada di benak Lee. Seperti apa bentuknya, bagaimana kemampuannya? Mungkin itu sedikit pertanyaan yang ada di pikirannya. Sesaat melayang, Lee tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan staf Oculus yang membawa sebuah headset VR.

Baca juga :

Tak salah lagi, ini adalah Santa Cruz yang digadang-gadang akan jadi penantang terkuat Gear VR dan Daydream View. Bentuknya sangat terlihat mirip Rift, namun lebih berantakan. Mungkin karena masih prototipe sehingga desainnya juga masih ala kadarnya. Berbeda dengan Rift, ada semacam kotak yang terletak di bagian belakangnya. Ketika digunakan, kotak tersebut posisinya ada di belakang kepala.

Kotak tersebut terhubung ke depan lewat kabel-kabel yang melintas di atas kepala pengguna. Bisa dipastikan di balik kotak itu adalah sebuah PC yang menjadi tenaga Santa Cruz. Belum ada informasi soal spesifikasinya.

Selain itu juga ada kamera berukuran kecil di sekitar Santa Cruz yang jumlahnya empat buah. Setelah bertanya, Lee baru tahu kalau fungsi keempat kamera itu berguna untuk mendukung fitur ‘inside-out tracking‘ yang dijanjikan Oculus.

Beberapa saat sebelumnya, Oculus menggelar sebuah acara bertajuk Connect 3. Di situ perusahaan ini mengungkap Santa Cruz sekaligus membeberkan kelebihannya dibanding pesaing, yang salah satunya adalah ‘inside-out tracking’. Lantas apa kegunaan ‘inside-out tracking’ sebenarnya?

Seperti detikINET kutip dari Engadget, ‘inside-out tracking’ adalah sebuah fitur yang memungkinkan pengguna merasakan sepenuhnya lingkungan VR. Jadi kalau di headset VR lainnya pengguna harus menggunakan kontroler stik atau mengandalkan tombol-tombol yang ada, maka dengan ‘inside-out tracking‘ pengguna bisa langsung bergerak sendiri untuk merasakan dunia VR yang ada di pandangannya.

Adapun fungsi keempat kamera tadi untuk menjaga pengguna agar tidak menabrak barang-barang yang ada di sekitarnya. Oleh karenanya, Lee diajak menjajal Santa Cruz di ruangan yang di desain seperti dalam rumah.

Kembali ke Lee, Ia tak boleh menyentuh Santa Cruz ketika headset VR ini mulai dipasangkan ke kepalanya. Ini membuatnya canggung, terutama ketika staf dari Oculus berusaha mengepaskan pegangan tali Santa Cruz ke kepalanya. Namun akhirnya Santa Cruz bisa terpasang sempurna.

Sebelumnya, Lee diminta untuk mengingat posisi barang-barang yang ada di ruangan untuk mencegah kalau-kalau dirinya menabrak sesuatu.

Pengalaman pun dimulai, menggunakan Santa Cruz, Lee awalnya hanya melihat ruangan kosong tanpa ujung. Ia pun diminta berjalan sejauh yang Ia bisa, benar-benar melangkah, bukan pakai kontroler stik atau menekan tombol.

Ia berjalan hingga mendekati dinding. Menariknya, menurut pengakuan Lee di tampilan Santa Cruz muncul sebuah garis. Awalnya ia bingung maksudnya, namun ketika menyentuh dinding Lee baru sadar kalau garis tersebut mewakili rintangan yang ada di depannya di dunia nyata.

Dari sinilah baru ketahuan fungsi sesunggunya fitur ‘inside-out tracking‘. Keempat kamera bertujuan untuk mengenali lingkungan di sekitar, kemudian memberikan peringatan ke pengguna.

Selanjutnya Lee diajak ke dunia kertas, yang tentu saja semua barang dan bangunan di dalamnya terbuat dari kertas. Di dunia kertas ini tengah terjadi kekacauan, ada orang-orang berteriak, barang terbakar, bahkan ada UFO melintas.

Melewati kekacauan tersebut, Lee dipaksa merangkak, menengok, bergerak dari sudut ke sudut, hingga menyusuri balkon. Dan tentu saja, Lee benar-benar melakukannya secara fisik di ruangan yang kini ditempatinya. Menurut Lee, Santa Cruz benar-benar mampu memberikan interaktif VR yang sangat nyata. Jauh lebih baik dari Gear VR.

Bahkan ketika dibandingkan dengan Rift, Lee mengaku bisa merasakan pengalaman yang sama. Malah Ia tak harus terpaku dengan kabel yang kalau di Rift membatasi gerakan lantaran terhubung ke PC. Saat ditanya apakah Santa Cruz bisa dihubungkan dengan kontroler Oculus Touch, pihak Oculus menyebut masih terlalu dini untuk mengatakannya.

Tapi itu memang paling jawaban paling benar, pasalnya Santa Cruz bisa dibilang masih konsep belaka. Meski dalam praktiknya, apa yang dijanjikan Oculus sudah bisa dirasakan oleh pengguna.

Belum ada perkiraan kapan pengembangan Santa Cruz akan rampung. Tapi bila akhirnya diluncurkan, Samsung atau bahkan Google jelas-jelas harus waspada. Sebab pengguna tak perlu lagi beli ponsel mahal atau PC dengan spesifikasi menguras kantong. Tinggal pasang di kepala dan nyalakan, pengguna sudah akan terbawa di dunia VR nan interaktif yang sesungguhnya.

Sumber : detik